Rabu, 28 November 2012

Masakan Italia, Simbol Kehangatan Keluarga

author : Jeffrey Satria
Friday, 02 March 2012 - 01:12 pm

Intisari/Bhisma

Signora Pasta, rumah makan khas Italia.
Intisari-Online.com - “A tavola non si invecchia” Di sebuah meja makan bersama dengan keluarga dan teman, engkau tak akan menjadi tua. – Pepatah Italia
Berkembang sejak ratusan abad yang lalu, masakan Italia menjadi satu bagian dari kekayaan kuliner dunia. Rasanya yang khas merupakan hasil pengaruh kuliner-kuliner Barat dan Timur Tengah seperti Yunani dan Arab.
Mencari karakteristik masakan Italia asli di Indonesia tidak semudah mencari restoran pasta atau piza biasa. Banyak restoran Italia di Indonesia, namun tak semuanya autentik, karena pada dasarnya masakan Italia lebih tepat disebut masakan kampung atau masakan rumah.
Ya, masakan Italia tidak dikembangkan oleh chef atau juru masak terkenal. Kebanyakan masakan Italia dikembangkan oleh nenek atau ibu rumah tangga. Inilah yang menyebabkan masakan Italia begitu mudah diadopsi oleh siapa saja.
Kemudahan memasak dan menyiapkan juga membuat kuliner yang ini berkembang dan menyebar begitu cepat. Tak perlu ribet menyiapkan banyak bahan, cukup 4 sampai 8 bahan dan bumbu, maka Anda atau siapa pun bisa menyiapkan masakan Italia di rumah. Yang penting adalah kualitas setiap bahan, karena akan mempengaruhi setiap masakan.
Beda daerah beda rasa
Berbicara soal masakan Italia tak bisa jauh-jauh dari sejarah kuliner ibukota negeri pasta itu, Roma. Dua ribu tahun lalu masakan Roma lebih dikenal sebagai masakan orang miskin atau ‘la povera cucina’ (poor kitchen). Sedangkan para bangsawan Roma lebih suka menyantap berbagai daging dari berbagai jenis unggas dan mabuk oleh anggur (wine) kebanggaan mereka.
Mereka yang miskin memasak masakan-masakan sederhana dari hasil lumbung sayuran mereka sendiri. Sayur-sayuran dan buah-buahan segar menjadi bahan baku utama, menghasilkan masakan sederhana yang biasa disantap di pinggir-pinggir jalan. Cara makan ini nantinya berkembang menjadi apa yang mereka sebut sebagai trattoria (warung) dan osteria (bar).
Trattoria dan osteria sendiri dikelola oleh keluarga-keluarga di Italia. Mereka menyajikan masakan-masakan yang sederhana namun dimasak dengan sempurna. Apa yang mereka makan di meja makan disajikan kepada para tamu. Ini menjadi dasar dari masakan dan keramahan Italia yang sesungguhnya.
Kelebihan sesungguhnya dari masakan Italia terletak pada kesegaran bumbu dan bahan-bahan yang mereka gunakan. Seperti warga Roma zaman dahulu, mereka masih menggunakan bahan-bahan natural yang ada di alam. Keju dari susu domba peliharaan, sayur-sayuran dari ladang sendiri, atau buah dari kebun sendiri menjadi ciri khas. Selain bumbu dan bahan yang natural dan segar, mereka mengutamakan memasak masakan saat akan dimakan. Sehingga masakan yang dihidangkan lebih segar dan hangat saat disantap. Hmm…
Namun seiring berjalannya waktu, masakan Italia mulai dipengaruhi oleh kuliner-kuliner yang dibawa pendatang. Kuliner di suatu daerah lambat laun berubah dan memiliki karakteristik mereka sendiri. Masakan daerah utara Italia misalnya, lebih banyak menggunakan mentega, krim dan daging ternak seperti ayam, sapi dan domba, karena pengaruh Prancis dan Jerman. Sedangkan daerah selatan seperti Sisilia atau Sardinia lebih gemar menggunakan tomat dan hasil segar lautan Italia.
Namun karakteristik rasa tak hanya dibagi menjadi dua secara utara dan selatan saja. Masing-masing kota atau daerah di Italia juga memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Masakan Roma misalnya menggunakan banyak pecorino atau keju dari domba dan jeroan. Sedangkan di daerah Tuscan misalnya, masakan banyak menggunakan biji-bijian, daging, dan roti tawar.
Piza yang digadang-gadang sebagai masakan nasional Italia juga berbeda rasanya di tiap daerah. Di Roma, roti piza memiliki bentuk lebih tipis dan rasanya renyah sehingga mudah untuk dimakan. Sedangkan di Neapolitan dan Sisilia, roti piza lebih tebal. Kuliner di Sisilia bahkan memiliki rasa yang lebih menarik karena banyak dipengaruhi oleh kuliner Arab dan menggunakan banyak lemon dan kacang pistachio.
Intisari/BhismaManjakan perut dengan struktur makanan tradisional
Kenikmatan menyantap masakan Italia sesungguhnya dapat dirasakan ketika harus memakan satu set masakan Italia berdasar struktur makanan tradisional. Struktur makanan tradisional Italia sesungguhnya sudah terkenal di seluruh dunia dan menjadi pelopor struktur makanan modern yang kita kenal sekarang seperti appetizer (makanan pembuka), main course (makanan utama), dan dessert (makanan penutup).
Untuk mengerti lebih jelas tentang rasa otentik Italia, maka pasangan suami-istri Giuseppe Coglitore dan Mariamah Juned, pemilik Signora Pasta, Cirendeu bersedia membantu menerangkan rasa autentik ini. Di Signora Pasta, mereka menghidangkan satu set makanan Italia lengkap dari apperitivo hingga caffe. Satu set struktur makanan tradisional Italia yang dapat membuat perut berdendang kenyang.
Giusseppe Coglitore atau yang akrab dipanggil Pino menjelaskan bahwa struktur tradisional masakan ini tak digunakan di seluruh daerah Italia. Di beberapa daerah atau kota, warga Italia langsung menyantap makanan utama atau primo piatto tanpa menyantap masakan pembuka atau antipasto. Kebiasaan itu juga hanya dilakukan pada hari-hari besar seperti pernikahan atau hari-hari libur akhir pekan.
Untuk hidangan pembuka set tradisional, akan dihidangkan sebuah minuman yang berfungsi untuk menggugah selera makan. Minuman ini disebut aperitivo atau aperitif. Biasanya minuman ini berupa wine atau sparkling wine. Namun menurut Pino tak harus selalu minuman beralkohol. Signora Pasta sendiri menyediakan minuman aperitif tak beralkohol seperti Bunga-Bunga yang diracik Pino dari buah-buahan segar seperti jeruk nipis, markisa, dan leci dicampur dengan serai. Minuman dengan rasa asam manis ini seakan mempersiapkan lambung Anda untuk pertempuran gastronomi panjang.
Setelah aperitivo, maka acara santap akan dilanjutkan dengan antipasto atau makanan pembuka. Di Italia, antipasto biasanya berupa roti bruschetta dengan topping tomat segar dilumuri minyak zaitun dengan potongan rosemary. Seperti yang kita kenal di banyak restoran Italia, bruschetta terkenal sebagai makanan sampingan, namun posisi sebenarnya adalah makanan pembuka.
Selain bruschetta Pino juga menyarankan untuk menyantap salamiSalami atau sosis Italia yang telah diawetkan dan difermentasikan dengan udara kering bisa disajikan segar atau fresh tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Kedua antipasto ini dapat dihidangkan sekaligus atau salah satu saja tergantung selera dan ketersediaan bahan.
Setelah antipasto, maka tiba saat menikmati hidangan utama pertama atau primo piattoPrimo piatto biasanya berjenis pasta atau risotto (nasi dimasak dengan kaldu). Pasta biasa menjadi masakan yang tidak bisa tidak ada di meja keluarga Italia. Pasta sendiri dibedakan berdasarkan bentuk dan cara pembuatannya. Ada jenis pasta yang dibuat tanpa menggunakan telur dan bisa disimpan selama dua tahun. Namun beberapa jenis pasta lainnya hanya bisa disimpan selama 1 - 2 hari di kulkas.
Namun jenis-jenis pasta umumnya diingat berdasar bentuknya. Spaghetti misalnya berbentuk seperti mi, fussilli seperti sekrup, dan lasagna yang terbentuk dari tumpukan lembaran-lembaran pasta tipis. Ada pula beberapa jenis pasta seperti ravioli, gnocchi, spatzle yang jarang kita temui di Indonesia.
Di Italia, pasta dibuat sendiri oleh keluarga-keluarga atau pemilik restoran. Proses pembuatannya mudah dan bahan-bahannya pun sederhana seperti tepung terigu, air, dan telur. Beberapa pasta dimodifikasi sendiri, tergantung selera dengan menambahkan bumbu-bumbu herba seperti basil atau rosemary, sehingga rasa dan aromanya menjadi khas.
Setelah masakan utama pertama, maka bersiaplah untuk menyantap masakan utama kedua atau secondo piattoSecondo piatto biasanya terdiri atas masakan daging-dagingan seperti sapi, ikan, atau ayam. Daging-dagingan ini bisa dimasak dengan berbagai cara seperti dipanggang, rebus, atau digoreng begitu saja. Masyarakat Italia bagian utara biasa menyantap secondo berbahan dasar daging ternak, sedangkan mereka yang berada di selatan biasa menyantap hasil laut seperti ikan atau udang. Uniknya lagi, tradisi Italia mengharuskan orang untuk menyantap secondo piatto bersama contorno atau makanan tambahan. Makanan tambahan ini dapat berupa salad atau roti yang biasanya kita santap di awal. Jadi bayangkan saja betapa kenyangnya…
Untuk penutupan ada dolce atau dessert berupa tiramisu atau gelato. Tiramisu dibuat dari savoiardi (biskuit ladyfingers) yang dicelupkan dalam kopi, dilapisi campuran kuning telur dan mascarpone (keju Italia terbuat dari krim) dan dibumbui dengan sedikit alkohol dan serbuk kakao. Sedangkan gelato sendiri adalah bahasa Italia untuk es krim.
Sebagai akhir dari perjalanan makan yang panjang itu, disiapkanlah espresso lengkap dengan grappaEspresso pahit pekat dicampur sebungkus gula putih dan diberi sedikit grappa akan menjadi coffee coretto (corrected coffee) yang akan membantu pencernaan setelah serangkaian makanan berat tadi.
Foto: BhismaMakanan sebagai pengikat keluarga
Bagi masyarakat Italia, makanan dan keluarga adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Kebiasaan untuk siap sedia di meja makan saat jam makan misalnya, dilakukan dengan sangat disiplin. Tak ada anggota keluarga yang boleh absen saat jam-jam makan. Sang kepala keluarga bisa tersinggung bila ada anggota keluarga yang tak mau turun dan makan bersama di meja makan, tak terkecuali bagi anak atau istri.
Makanan pun disediakan tepat sesuai jumlah. Tak ada yang sisa dan tak ada yang kurang. Jadi tak sopan bila ada tamu berkunjung pada jam makan keluarga. Kalaupun ada sebaiknya tamu atau keluarga yang akan berkunjung saat jam makan haruslah menelepon sebelumnya.
Di akhir pekan atau acara-acara khusus keluarga, makanan dihidangkan lebih banyak dari biasanya. Menggunakan struktur makanan tradisional Italia, makanan dihidangkan satu per satu dari apperitivoantipastoprimo piatto, secondo piatto, dolce, dan berakhir pada digestivo dan caffe. “Makanya kalau makan bisa dari jam 12 siang sampai jam 4 sore,” ujar Maria sambil tertawa.
Tapi tak sepenuhnya waktu digunakan untuk makan saja. Ada jeda-jeda waktu untuk bercengkrama dengan keluarga. Selingan-selingan renyah penuh tawa antar anggota keluarga membuat makanan berikutnya menjadi makin nikmat. Keluarga itulah bumbu utama masakan Italia.

Mamma mia lezatozzzz..!!!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar